Valentine's Day Pumping Heart

Kamis, 05 Januari 2017

Cerpen


Lengang

Karya: Luke K. A.

Langit mulai menggelap, sepertinya hujan akan turun. Dua gadis muda yang baru saja menyaksikan tari kuntulan di alun-alun Kota Magelang itu, langsung mencari tempat untuk berteduh. Mereka masuk ke sebuah gang yang sempit. Banyak bangunan indis yang tak terawat. Suasananya sangat sunyi seperti tak berpenghuni.
Catur, gadis berjilbab biru itu menggandeng tangan kanan sahabatnya yang semula memegang getuk untuk berteduh di bawah pohon beringin di halaman rumah yang pagarnya telah usang dan cat temboknya pun kepam. Matanya menyelisik untuk memastikan tempat tersebut aman atau tidak. Meski terlihat sepi, tetapi dirinya juga harus berhati-hati jika ternyata tempat itu sarang penjahat.
"Kita enggak apa-apa berteduh di sini?" tanya Saskia seraya mengamati setiap inci bangunan yang berada di sekitarnya. Netra teduhnya menyiratkan ketakutan.
"Daerah ini sudah tak berpenghuni jadi enggak apa-apa kalau kita numpang berteduh sampai hujan reda," jelas Catur.
"Justru itu aku takut," ungkap Saskia yang merasakan kejanggalan di tempat itu.
"Tenang saja di sini tidak ada apa-apa." Catur mencoba menenangkan Saskia yang ketakutan. Padahal, dirinya juga sama takutnya. Renyut jantungnya berdetak keras sedari tadi. Namun, gadis berjilbab ini berusaha tenang sambil mengumandangkan doa dalam hati agar Tuhan selalu menjaga mereka.
Angin berembus semakin kencang mengayunkan surai hitam milik Saskia. Air hujan terbawa ke mana-mana tak beraturan. Rok panjang milik gadis itu basah terkena percikan air.
"Hujan semakin deras, sebaiknya kita berteduh saja di sana!" ujar Catur sambil menunjuk teras rumah bercat abu-abu.
Saskia hanya mengangguk. Mereka pun berlari menuju ke teras sambil menutupi kepalanya dengan tas sekolah.
"Kamu yakin tempat ini aman?" tanya Saskia yang semakin ketakutan.
"Iya," jawab Catur tak yakin. Namun, ekspresi wajahnya diatur sedemikian rupa agar tetap tenang.
Mereka memutuskan untuk duduk di bangku panjang terbuat dari kayu jati yang berukiran teratai. Bisa dipastikan pemilik bangunan tua itu pasti berdarah Tionghoa karena ada lambang Ying dan Yang serta ukiran huruf piyin di pintu rumahnya.
"Aku lapar, Tur," tutur Saskia lembut seraya mengusap perutnya.
Catur yang semula berkutat dengan ponselnya langsung mengambil makanan di tasnya.
"Makan saja pukis ini," ujar Catur sambil memberikan kotak makanannya.
"Terima kasih."
Catur sangat penasaran dengan rumah tua ini yang tak terawat. Ada keinginan untuk melihat-lihat apa isi bangunan itu. Namun, dirinya takut. Belum pernah ia menginjakkan kakinya di tempat seperti itu.
"Pukisnya enak, tapi aku masih lapar. Kamu membelinya di mana?"
"Di dekat RSU. Bukannya tadi kamu sudah menghabiskan satu bungkus getuk, ya? Kenapa masih bisa lapar?" Catur memandang heran sahabatnya yang memiliki badan seperti sapu lidi, tetapi ternyata makannya banyak.
"Aku tak sempat makan di asrama karena lauknya habis. Kamu tahu sendiri kan anak asrama itu seperti apa," jawab Saskia.
Catur mengangguk. Ia paham kalau sahabatnya itu pasti bangun kesiangan dan jatah lauknya pasti sudah diambil orang.
"Untungnya jarak Sangrahan dengan Kesdam dekat, jadi aku tak mati kelaparan menunggumu tadi karena kamu sudah banyak membawakanku makanan," jelas Saskia diakhiri dengan senyuman.
Sayup-sayup suara rintihan terdengar di telinga Catur. Gadis itu menatap gusar sekelilingnya.
"Sas, kamu dengar suara orang merintih?" tanya Catur setenang mungkin.
Saskia menggeleng.
Suara itu semakin melemah. Namun, Catur yakin apa yang ia dengar itu bukan delusi.
"Sas, aku mau ke dalam. Mau memastikan suara tadi itu nyata atau tidak. Kamu mau ikut?"
"Tidak," tolak Saskia tegas.
Catur mengangguk. Ia langkahkan kakinya perlahan-lahan memasuki rumah itu. Detak jantungnya semakin kencang tak beraturan. Bulu romanya berdiri tatkala tapak kakinya memasuki ruang yang pengap dan gelap. Lukisan kuno Monalisa yang menggantung di dinding tampak lusuh menambah kesan mencekam. Bau anyelir darah segar kentara di hidung gadis berjilbab itu.
Sebuah pisau tak sengaja Catur injak. Diambilnya ragu pisau lipat berukir huruf piyin yang di ujungnya terdapat bercak darah. Tangan gadis itu bergetar hebat. Rasa takutnya semakin menjadi. Ia mundur beberapa langkah saat dirinya dengar lagi suara rintihan. Tubuhnya tak sengaja menabrak almari reyot yang kemudian membukakan sebuah bilik. Netranya membulat seketika melihat kondisi ruangan itu dari sudut jendela yang tirainya tersibak sebagian. Ada seorang wanita dengan kondisi mengenaskan di sana.
Wanita muda itu terkapar di sudut kamar. Matanya nanar. Busa di mulutnya masih mengalir. Banyak noda darah di tubuhnya.

Ketakutan yang dirasakan Catur semakin menjadi. Tubuh mungilnya bergetar hebat. Peluh mulai bercucuran dari dahinya. Dalam diam gadis itu berdoa pada Sang Pencipta bahwa itu adalah mimpi.
Suara langkah kaki membuat Catur tersadar bahwa ada orang lain di ruang itu. Meski ngeri gadis itu membalikkan badannya untuk memastikan siapa yang ada di belakangnya. Dilihatnya seorang pria berkulit putih susu penuh tato dengan rambut jabriknya yang bewarna merah darah sedang melangkah mendekatinya. Perempuan ini hanya bisa bergeming. Sementara hatinya sedang meyakinkannya untuk tetap tenang. Namun, naasnya lelaki itu semakin dekat membuatnya semakin gelebah.

"Saskia!" teriak Catur karena sangat takut dengan pria yang sudah berdiri di depannya. Lamat-lamat mata indahnya terpejam bersamaan dengan tubuhnya yang terjatuh ke lantai.
"Nona! Nona!" Pria berkulit putih susu itu mencoba menyadarkan Catur dengan menepuk-nepuk pipinya. Namun, hasilnya nihil.
"Heh! Apa yang kau perbuat pada temanku?" tanya Saskia yang sudah berdiri di ruang itu, kepada pria berkulit putih susu.
"Aku tidak melakukan apa-apa. Nona ini pingsan setelah berteriak."
Saskia menatap mata elang pria itu mencari kebohongan di sana, tetapi tak ia temukan dusta.
"Lalu, kau siapa dan mau apa?"
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Aku Dino, cucu pemilik rumah ini."
Saskia mengangguk mengerti.
"Maaf, aku Saskia dan dia Catur. Kami hanya ingin menumpang berteduh di sini. Kami tak bermaksud lancang masuk ke rumah ini. Tadi, Catur mendengar ada suara rintihan lalu dia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah ini."

"Di sini tak ada siapa-siapa. Tak mungkin ada suara rintihan. Rumah ini sudah lama kosong karena dulu ada pembunuhan sadis di wilayah ini. Kakak perempuanku juga menjadi korban dalam peristiwa itu. Dia ditusuk dengan pisau beracun," jelas Dino sembari mengingat masa lalu yang begitu menyakitkan.
Saskia hanya terdiam dengan berbagai pikiran yang berkecamuk. Namun, itu tak bertahan lama. Dirinya langsung mencoba membangunkan Catur, tetapi tak ada respon sama sekali. Dipegangnya pergelangan tangan gadis itu yang ternyata nadinya telah tak berdenyut. 
-Selesai-


Magelang, 5 Januari 2017

1 komentar: