Lengang
Karya: Luke K. A.
Langit mulai menggelap, sepertinya
hujan akan turun. Dua gadis muda yang baru saja menyaksikan tari kuntulan di
alun-alun Kota Magelang itu, langsung mencari tempat untuk berteduh. Mereka masuk ke
sebuah gang yang sempit. Banyak bangunan indis yang tak terawat. Suasananya
sangat sunyi seperti tak berpenghuni.
Catur, gadis berjilbab biru itu
menggandeng tangan kanan sahabatnya yang semula memegang getuk untuk berteduh
di bawah pohon beringin di halaman rumah yang pagarnya telah usang dan cat
temboknya pun kepam. Matanya menyelisik untuk memastikan tempat tersebut aman
atau tidak. Meski terlihat sepi, tetapi dirinya juga harus berhati-hati jika
ternyata tempat itu sarang penjahat.
"Kita enggak apa-apa berteduh di
sini?" tanya Saskia seraya mengamati setiap inci bangunan yang berada di
sekitarnya. Netra teduhnya menyiratkan ketakutan.
"Daerah ini sudah tak berpenghuni
jadi enggak apa-apa kalau kita numpang berteduh sampai hujan reda," jelas
Catur.
"Justru itu aku takut,"
ungkap Saskia yang merasakan kejanggalan di tempat itu.
"Tenang saja di sini tidak ada
apa-apa." Catur mencoba menenangkan Saskia yang ketakutan. Padahal,
dirinya juga sama takutnya. Renyut jantungnya berdetak keras sedari tadi.
Namun, gadis berjilbab ini berusaha tenang sambil mengumandangkan doa dalam
hati agar Tuhan selalu menjaga mereka.
Angin berembus semakin kencang
mengayunkan surai hitam milik Saskia. Air hujan terbawa ke mana-mana tak
beraturan. Rok panjang milik gadis itu basah terkena percikan air.
"Hujan semakin deras, sebaiknya
kita berteduh saja di sana!" ujar Catur sambil menunjuk teras rumah bercat
abu-abu.
Saskia hanya mengangguk. Mereka pun
berlari menuju ke teras sambil menutupi kepalanya dengan tas sekolah.
"Kamu yakin tempat ini aman?"
tanya Saskia yang semakin ketakutan.
"Iya," jawab Catur tak
yakin. Namun, ekspresi wajahnya diatur sedemikian rupa agar tetap tenang.
Mereka memutuskan untuk duduk di
bangku panjang terbuat dari kayu jati yang berukiran teratai. Bisa dipastikan
pemilik bangunan tua itu pasti berdarah Tionghoa karena ada lambang Ying dan Yang serta
ukiran huruf piyin di pintu rumahnya.
"Aku lapar, Tur," tutur
Saskia lembut seraya mengusap perutnya.
Catur yang semula berkutat dengan
ponselnya langsung mengambil makanan di tasnya.
"Makan saja pukis ini," ujar
Catur sambil memberikan kotak makanannya.
"Terima kasih."
Catur sangat penasaran dengan rumah
tua ini yang tak terawat. Ada keinginan untuk melihat-lihat apa isi bangunan
itu. Namun, dirinya takut. Belum pernah ia menginjakkan kakinya di tempat
seperti itu.
"Pukisnya enak, tapi aku masih
lapar. Kamu membelinya di mana?"
"Di dekat RSU. Bukannya tadi kamu
sudah menghabiskan satu bungkus getuk, ya? Kenapa masih bisa lapar?" Catur
memandang heran sahabatnya yang memiliki badan seperti sapu lidi, tetapi
ternyata makannya banyak.
"Aku tak sempat makan di asrama karena lauknya habis. Kamu tahu sendiri kan anak asrama itu seperti apa,"
jawab Saskia.
Catur mengangguk. Ia paham kalau
sahabatnya itu pasti bangun kesiangan dan jatah lauknya pasti sudah diambil
orang.
"Untungnya jarak Sangrahan dengan
Kesdam dekat, jadi aku tak mati kelaparan menunggumu tadi karena kamu sudah
banyak membawakanku makanan," jelas Saskia diakhiri dengan senyuman.
Sayup-sayup suara rintihan terdengar
di telinga Catur. Gadis itu menatap gusar sekelilingnya.
"Sas, kamu dengar suara orang
merintih?" tanya Catur setenang mungkin.
Saskia menggeleng.
Suara itu semakin melemah. Namun,
Catur yakin apa yang ia dengar itu bukan delusi.
"Sas, aku mau ke dalam. Mau
memastikan suara tadi itu nyata atau tidak. Kamu mau ikut?"
"Tidak," tolak Saskia tegas.
Catur mengangguk. Ia langkahkan
kakinya perlahan-lahan memasuki rumah itu. Detak jantungnya semakin kencang tak
beraturan. Bulu romanya berdiri tatkala tapak kakinya memasuki ruang yang
pengap dan gelap. Lukisan kuno Monalisa yang menggantung di dinding tampak
lusuh menambah kesan mencekam. Bau anyelir darah segar kentara di hidung gadis
berjilbab itu.
Sebuah pisau tak sengaja Catur injak. Diambilnya ragu pisau lipat berukir huruf piyin yang di ujungnya
terdapat bercak darah. Tangan gadis itu bergetar hebat. Rasa takutnya semakin
menjadi. Ia mundur beberapa langkah saat dirinya dengar lagi suara rintihan.
Tubuhnya tak sengaja menabrak almari reyot yang kemudian membukakan sebuah
bilik. Netranya membulat seketika melihat kondisi ruangan itu dari sudut jendela
yang tirainya tersibak sebagian. Ada seorang wanita dengan kondisi mengenaskan
di sana.
Wanita muda itu terkapar di sudut
kamar. Matanya nanar. Busa di mulutnya masih mengalir. Banyak noda darah di
tubuhnya.
Ketakutan yang dirasakan Catur semakin
menjadi. Tubuh mungilnya bergetar hebat. Peluh mulai bercucuran dari dahinya.
Dalam diam gadis itu berdoa pada Sang Pencipta bahwa itu adalah mimpi.
Suara langkah kaki membuat Catur
tersadar bahwa ada orang lain di ruang itu. Meski ngeri gadis itu membalikkan badannya untuk memastikan siapa yang ada di belakangnya. Dilihatnya seorang pria
berkulit putih susu penuh tato dengan rambut jabriknya yang bewarna merah darah
sedang melangkah mendekatinya. Perempuan ini hanya bisa bergeming. Sementara
hatinya sedang meyakinkannya untuk tetap tenang. Namun, naasnya lelaki itu
semakin dekat membuatnya semakin gelebah.
"Saskia!" teriak Catur
karena sangat takut dengan pria yang sudah berdiri di depannya. Lamat-lamat
mata indahnya terpejam bersamaan dengan tubuhnya yang terjatuh ke lantai.
"Nona! Nona!" Pria berkulit
putih susu itu mencoba menyadarkan Catur dengan menepuk-nepuk pipinya. Namun,
hasilnya nihil.
"Heh! Apa yang kau perbuat pada temanku?"
tanya Saskia yang sudah berdiri di ruang itu, kepada pria berkulit putih susu.
"Aku tidak melakukan apa-apa.
Nona ini pingsan setelah berteriak."
Saskia menatap mata elang pria itu
mencari kebohongan di sana, tetapi tak ia temukan dusta.
"Lalu, kau siapa dan mau apa?"
"Seharusnya aku yang bertanya
seperti itu. Aku Dino, cucu pemilik rumah ini."
Saskia mengangguk mengerti.
"Maaf, aku Saskia dan dia Catur.
Kami hanya ingin menumpang berteduh di sini. Kami tak bermaksud lancang masuk
ke rumah ini. Tadi, Catur mendengar ada suara rintihan lalu dia memutuskan
untuk masuk ke dalam rumah ini."
"Di sini tak ada siapa-siapa. Tak
mungkin ada suara rintihan. Rumah ini sudah lama kosong karena dulu ada
pembunuhan sadis di wilayah ini. Kakak perempuanku juga menjadi korban dalam
peristiwa itu. Dia ditusuk dengan pisau beracun," jelas Dino sembari mengingat
masa lalu yang begitu menyakitkan.
Saskia hanya terdiam dengan berbagai
pikiran yang berkecamuk. Namun, itu tak bertahan lama. Dirinya langsung mencoba
membangunkan Catur, tetapi tak ada respon sama sekali. Dipegangnya pergelangan
tangan gadis itu yang ternyata nadinya telah tak berdenyut.
-Selesai-
Magelang, 5 Januari 2017




